Tanam Pohon, Etika Politik DPRD Jogja Juga Ikut Tumbuh?
Di tengah kota yang makin akrab dengan baliho, rapat, dan seremonial, Ketua DPRD Kota Yogyakarta, Wisnu Sabdono Putro, memilih cara yang relatif sunyi tapi cukup simbolik, menanam pohon.
Bukan sekadar menancapkan bibit lalu foto bersama, melainkan membawa narasi bahwa kepedulian lingkungan seharusnya berangkat dari tindakan nyata, bukan cuma jargon.
Aksi tanam pohon ini dimulai dari halaman Gedung DPRD Kota Yogyakarta di Jalan Ipda Tut Harsono. Pohon yang dipilih pun bukan sembarang tanaman. Wisnu menanam Sawo Kecik, flora yang punya status khusus dalam kosmologi Jawa dan identitas Yogyakarta.
"Sawo Kecik itu simbol kebecikan. Harapannya, siapa pun yang berada di dalam gedung ini—anggota dewan maupun masyarakat, bisa menjaga perilaku dan hati yang bersih,” kata Wisnu.
Menariknya, jumlah pohon yang ditanam pun tidak asal hitung. Tiga bibit Sawo Kecik ditanam di sekitar gedung dewan. Dalam filosofi Jawa, angka tiga dimaknai sebagai jangkung, menjangkau.
Pesannya jelas, pimpinan lembaga legislatif harus mampu menjangkau semua elemen, bukan hanya saat rapat paripurna, tapi juga dalam urusan etika dan kepedulian publik.
Dari pusat kota, kegiatan berlanjut ke kawasan Plunyon Kalikuning, lereng Gunung Merapi. Di lokasi yang selama ini menjadi benteng alami sekaligus penyangga kehidupan Yogyakarta itu, Wisnu dan warga menanam sepuluh bibit Pohon Pronojiwo, tanaman endemik pegunungan yang mulai langka akibat eksploitasi berlebihan.
Selain dikenal sebagai tanaman obat, Pronojiwo juga menyimpan pesan ekologis yang kuat. Angka sepuluh dimaknai sebagai kesempurnaan, sebuah harapan akan harmoni antara manusia dan alam.
Sebuah pengingat bahwa Merapi bukan sekadar latar wisata atau ancaman erupsi, melainkan napas bagi Yogyakarta, sumber mata air, oksigen, dan keseimbangan hidup.
"Harmoni alam semesta harus dijaga bersama. Alam yang kita nikmati hari ini adalah warisan para pendahulu. Tugas kita bukan menghabiskannya, tapi mewariskannya," tegas Wisnu.
Sekitar 100 warga turut terlibat dalam aksi ini. Mereka tak hanya menanam pohon, tetapi juga menyusuri lereng Merapi, berjalan kaki, berkeringat, dan barangkali merenung.
Di tengah rutinitas kota yang padat dan isu lingkungan yang sering dibahas di ruang rapat, kegiatan ini menjadi pengingat sederhana, menjaga alam tak selalu perlu pidato panjang. Kadang cukup dengan menanam, merawat, dan tidak merusak.
Dan mungkin, Jogja memang butuh lebih banyak tindakan semacam ini, yang diam-diam bekerja, tapi meninggalkan akar panjang untuk masa depan.






